Postingan

Surat Dari Peron 7

Malam kota lamaku Aku di sini untuk sebentar Saksi yang telah berlalu Lalu tertinggal Terpaku ruang Sama seperti Nadin, malam itu ragaku kembali ke kota yang sudah lama tidak aku sambangi. Lagu Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat milik Nadin Amizah mengawani perjalanan yang entah mengapa terasa begitu berat dari biasanya. Dengan mata terpejam, pikiranku menelisik jauh ke belakang. Mengenang masa ketika suka lebih banyak lahir daripada duka, sembari menunggu pengeras suara di gerbong sembilan bicara tentang tempat yang aku tuju. Jakarta memang bukan tempat kelahiran, namun tiap kali berkunjung rasanya seperti sedang transit menuju rumah — tempat tak kasat mata yang bahkan belum pantas dimiliki oleh seorang aku. Rasanya seperti dekat dengan kata pulang , hanya belum sampai karena tidak memenuhi syarat dari sang batin. Setidaknya ia punya lebih banyak tawa dari kampung halaman yang rasanya lebih seperti kosan. Seatap, namun banyak sekat. Singgasana di peron tujuh seakan sudah menung...

Rumah Tanpa Atap

Di sudut kota, diantara ruang tertutup yang berderet rapi di tepian jalan. Angin malam meniupkan lembut hidupnya pada gadis repas yang telungkup dengan kardus bekas dari pemulung tadi siang. Matanya terpejam, namun jiwanya pergi menelisik mencari sesuatu yang hilang. Tubuhnya yang ringkih saling memeluk, menutupi luka yang terlampau lebam dimakan waktu. Gadis itu membuka mata, tersenyum melihat pemandangan di depannya. Gemerlap pertokoan yang masih enggan mengakhiri hari, beberapa ambisius yang masih terjaga dengan kendaraan beroda mereka, sampai beberapa pemabuk yang terlihat girang di ujung jalan. Tangannya meraba saku celana, berusaha menemukan kawan setianya. Tapi nihil, tidak tersisa apapun disana, hanya beberapa butir asa yang tertinggal. "Mencari ini, nona?" Gadis itu menoleh pada pria yang kini menyodorkan sebungkus sampoerna . Tidak, itu bukan kawan setia yang ia cari. Tapi mungkin, sampoerna bisa menjadi kawan baru bagi nasibnya yang tidak sempurna. "Karun, ji...