Surat Dari Peron 7

Malam kota lamaku
Aku di sini untuk sebentar
Saksi yang telah berlalu
Lalu tertinggal
Terpaku ruang

Sama seperti Nadin, malam itu ragaku kembali ke kota yang sudah lama tidak aku sambangi. Lagu Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat milik Nadin Amizah mengawani perjalanan yang entah mengapa terasa begitu berat dari biasanya. Dengan mata terpejam, pikiranku menelisik jauh ke belakang. Mengenang masa ketika suka lebih banyak lahir daripada duka, sembari menunggu pengeras suara di gerbong sembilan bicara tentang tempat yang aku tuju.

Jakarta memang bukan tempat kelahiran, namun tiap kali berkunjung rasanya seperti sedang transit menuju rumah — tempat tak kasat mata yang bahkan belum pantas dimiliki oleh seorang aku. Rasanya seperti dekat dengan kata pulang, hanya belum sampai karena tidak memenuhi syarat dari sang batin. Setidaknya ia punya lebih banyak tawa dari kampung halaman yang rasanya lebih seperti kosan. Seatap, namun banyak sekat.

Singgasana di peron tujuh seakan sudah menunggu kedatanganku setelah sekian lama kami tidak bersua. Ia rindu dengan rintihan dari seorang perempuan kesepian. Memang butuh banyak usaha untuk bisa sampai di tempat ini. Bukan hasratku hingga manusia yang sehari-hari hanya menatap kosong dinding kusam di ruangannya jadi lebih sedikit berkunjung. Hanya saja, tanggung jawab yang dibebankan semesta cukup membuat ambisi untuk hidup semakin goyah.

Semuanya bepergian
Berlalu lalang
Tak karuan
Sebentar perlahan sebentar
Tak kunjung percaya
Waktu telah berubah

Sepasang earphone yang terselip di antara telinga dan kain penutup kepala tidak membuat pendengaranku pudar akan keluh kesah manusia yang berlalu lalang di depan sana. Langkah kaki mereka bahkan terdengar gusar, seperti takut tertinggal waktu yang terus melaju — yang sama sekali tak berminat menunggu sebutir debu pun yang kesiangan. Padahal mereka semua memiliki kesamaan. Punya tujuan. Entah pulang atau pergi, peron ini memang sudah ditakdirkan untuk menyambut orang-orang yang ingin sampai ke titik tuju atau ke titik akhir. Hanya itu. Sedang aku malah membuat kediaman disini. Bodoh.

Meski waktu tidak memiliki cukup toleransi bagi penganutnya, aku masih tidak ingin beranjak dari detik ini. Karena tiap sekarang adalah satu kesempatan yang tidak akan pernah bisa disamakan dengan pelanggan kedai kopi di simpang jalan — datang lagi untuk menyinggahi.

Tawa yang telah pudar dan tua
Digantikan dengan takut dan gundah

Semakin lawas hidup di dunia, semakin tipis pula kesempatan untuk tertawa. Tampaknya lelucon murah dari sanak keluarga yang pernah membuatmu tergelak sewaktu kecil sudah kadaluwarsa. Bahkan untuk mencobanya lagi sulit. Seperti hanya ada ketakutan dan kegundahan pada emosi yang dimiliki manusia dewasa. Layaknya orang-orang yang tengah mampir di peron tujuh. Raut mereka menunjukkan banyak kekhawatiran, merenungi apa lagi yang bisa dilakukan untuk tetap hidup.

Riuhnya kota mungkin jadi hal paling menyebalkan bagi sebagian orang. Tapi bagiku, kebisingan mereka adalah hal yang membuat jiwa ini tetap hidup. Melihat berbagai cerita, tawa, serta duka dari tiap mereka sudah cukup membuatku bersyukur atas kehidupan, dan bertahan lebih lama di panggung sandiwara milik Tuhan.

Jumpa aku di sana 
Entah di mana yang aku maksud
Kereta ini tak gentar
Terus melaju
Aku takut

Seiring kedatangan kereta yang silih berganti, kursi di sebelahku sudah digilir oleh beberapa manusia yang tengah menanti harap. Berbagai angan tentang rumah, orang tercinta, hewan kesayangan, atau sekadar kasur empuk tampak menjejal pikiran mereka. Namun cita-cita di kepala tetap sama. Semoga esok hari lebih hangat. Layaknya americano yang digenggam mereka sebagai penawar letih dari kegaduhan dunia, serta kewajiban-kewajiban yang tak kunjung selesai.

Kereta terakhir sudah tiba, aku yang masih terjaga dengan separuh jiwa terpisah kian menyadari bahwa kediamanku disini belum sepenuhnya milikku. Aku tetap harus menyingkir untuk mencari pengungsian lain, lalu membuat kediaman lagi disana. Entah disana mana.

Mataku mengedar sebelum melangkah masuk ke gerbong lima, memberi salam pada singgasana di ujung peron, serta tak lupa mengucap syukur pada tempat singgah terbaik — yang pada masanya, selalu memberi cerita dan alasan tentang banyak hal. Segala rupa emosi kutemui disini, banyak juga hal kecil yang terbit. Kediaman ini sudah terlalu lama menyimpan duka yang aku pendam. Semoga, kunjunganku selanjutnya akan lebih banyak membawa suka.

Pintu gerbong yang tertutup menandakan bahwa anjangsana kali ini telah berakhir. Kulihat lagi ke sekeliling, mengamati para manusia tangguh yang jiwanya sedang rehat. Kota memang selalu membuat lelah, tapi jangan lupakan bahwa orang-orang di dalamnya juga tak pernah menyerah.

 

*tulisan ini telah terbit di menjadimanusia.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Tanpa Atap